Archive for August, 2008

heran

Sunday, August 31st, 2008

Keheranan 1

aq heran dengan yang terjadi hueran sekali…….kesal,marah,jengkel atau cemburu ya…cemburu karena iman.Bagaimana tidak dada ini gemuruh melihat seorang perempuan yang kebetulan ada di samping saya digoda…Bukannya perempuan tersebut marah,eh malah dengan senang hati,Sebagai seorang wanita yang melihat kaumnya digoda pingin nya marah pada lelaki penggoda tersebut,namun bagaimana ya kalau yang digoda happy happy aja………..Apa betul ya,kata teman saya.."biarin aja,emang cewek kayak gitu sukanya digoda…so gak perlu dibela"………(may be yes may be no)

Jadi terlintas di benak saya,wahai lelaki penggoda bayangkan bila istri anda,ibu anda,adek ato kakak perempuan anda,bibi,nenek etc…intinya wanita disekitar anda yang anda sayangi diganggu orang bagaimana?/?apakah anda rela?suka?……..saya pikir kalo anda seorang yang normal tentunya tidak……

Keherannan kedua

YA gara gara baca novel ketika cinta bertasih…….. di suatu penggalan cerita.Menceritakan tentang seorang wanita yang menyukai seorang pria,Dia pingin tahu perasaan pria tsb kpdnya lewat adik pria tsb yang kebetulan dekat dengannya….Dia menanyakan perihal sahabat pria tsb yang akan meminangnya,bagaimanakah pendapatnya..ternyata pria tsb bilang sahabatnya tsb tak layak ditolak(as good friend,walaupun dia juga suka wanita tsb takmungkinlah ia menjelekan sahabatnya)….dan ini dianggap wanita tsb bahwa pria yang disukainya tak memiliki perasaan padanya……sehingga dengan tanpa pikir panjang dia terima pinangan sahabat pria yang disukainya……kurang berapa hari pernikahan si wanita menyesal,dia utarakan perasaanya pada pria yang disukainya dan bilang masih ada waktu untuk merebutnya……..haiks dong…dong

Disinilah sisi keherananku……duh wanita ini,anda ini manusia atau barang sich??? kok mau dirinya diperebutkan???Apalagi oleh 2 orang yang bersahabat…dan anda tahu itu.Apa gak menghancurkan persahabatan mereka ?????heran tho???aq heran

SATU PELAJARAN YANG BISA DIAMBIL SEBAGAI SEORANG WANITA "SEORANG WANITA ITU DIHARGAI BILA IA BISA MENGHARGAI DIRINYA DAN MENJAGA SIKAPNYA,NAMUN HAL INI JUGA BERLAKU PADA PRIA PULA”

Tuhanku

Thursday, August 21st, 2008
Tuhanku
oleh: Ungu
allahumma shalli ‘alaa Muhammad
ya rabbi shalli ‘alaihi wa saliim
allahumma shalli ‘alaa Muhammad
ya rabbi baalighul wasila

oh Tuhanku
yang slalu kuserukan dalam doa selamanya
seumur hidupku

dan napasku
yang slalu kuhirup di setiap waktu
hanya pada-Mu
kupasrahkan hidupku

di bawah langit biru
kusebutkan nama-Mu
karena ku tahu
engkaulah Tuhanku

di bawah rumput hijau
ku bersujud padaMu
karena ku tahu
akulah hamba-Mu ya Allah

oh Tuhanku
yang slalu kuserukan dalam doa selamanya
seumur hidupku

di bawah langit biru
kusebutkan nama-Mu
karena ku tahu
engkaulah Tuhanku

di bawah rumput hijau
ku bersujud pada-Mu
karena ku tahu
akulah hamba-Mu ya Allah

allahumma shalli ‘alaa Muhammad
ya rabbi shalli ‘alaihi wa saliim
allahumma shalli ‘alaa Muhammad
ya rabbi baalighul wasila

Hanya manusia biasa

Thursday, August 21st, 2008

Tiada insan yang sempurna,tiada yang terlepas dari salah,karena manusia biasa bukanlah nabi yang sempurna,bila sekali tersentuh alpha langsung diingatkan oleh sang Penguasa jagat raya.ALLOH SWT

Atas nama insan bukan berarti seenaknya,ya memang kita tempat salah dan alpha namun kita pun diberi akal,pikiran dan hati untuk menuju kebenaran,untuk menuju hidayah.Yang mana kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapanNYA

Pohon Hijau
Album :
Munsyid : Brothers
http://liriknasyid.com

[00:08.00]Pohon hijau itu berdiri kaku
[00:36.89]Pohon hijau itu berdiri kaku
[00:21.98]Megahnya di celah pohonan
[00:44.09]Ibarat lukisan hidup
[00:51.90]Tetap tegak dan kaku

[00:59.78]Pohon hijau itu tetap kaku
[01:14.82]Lantas desiran kedengaran
[01:22.00]Amat sayup dan sayu
[01:28.69]Ia mula bergerak

[02:10.09]Pohon hijau itu tidak kan kaku lagi
[02:14.22]Beralun mengikut tarian bayu
[02:18.91]Pohon hijau itu melambai-lambai
[02:23.33]Beralun mengukir kehijauan

[02:27.59]Begitulah diibaratkan
[02:31.93]Dunia dengan kehidupan
[02:36.29]Bermulanya di daratan
[02:40.90]Kini menuju ke tengah lautan

[02:45.33]Angin yang menderu
[02:50.33]Datang tak menentu
[02:54.77]Ombak memukul pelayaran
[02:58.73]Apakan tergoyang keimanan

[03:03.64]Untukmu teman bajailah hidupmu
[03:12.52]Sirami hatimu dengan ketaqwaan
[03:16.58]Dalam mencari keredhaan Tuhan

[03:23.47]Hati-hati teman
[03:26.23]Meniti salju kehidupan
[03:28.43]Nan rapuh bisa cair dan runtuh

[03:32.92]Bersama angin lalu kutitipkan harapan
[03:37.42]Agar terus tabah hadapi cabaran

[03:42.28]Pohon hijau itu yang dulu kaku
[03:46.64]Kini mengikut tarian bayu
[03:50.99]Pohon hijau itu melambai-lambai
[03:55.60]Beralun mengukir kehijauan

[03:59.95]Pohon hijau itu tidakkan kaku lagi
[04:05.03]Beralun mengikut tarian bayu
[04:08.83]Pohon hijau itu melambai-lambai
[04:13.52]Beralun mengukir kehijauan

[04:17.90]Bila kejayaan sudah digenggaman
[04:22.96]Ingat-ingat teman kita kan pulang

[04:32.03]Pohon hijau itu kini kaku
[04:46.85]Ia tak bergerak lagi
[04:53.57]Ia pastikan layu
[05:01.79]gugur di taman ini
[05:09.55](ending)

Entalah,bagi saya lirik lagu ini penuh makna sekali,seorang manusia diibaratkan layaknya pohon hijau di lagu tersebut.Ujian kehidupan apapun itu bisa mengubah seseorang,karena itu point penting yang harus dipegang dont forget Sirami hatimu dengan ketaqwaan
Dalam mencari keredhaan Tuhan.Seberat apaun cobaan,setangguh apapun godaan Inggatlah ada ALLOH Sang pemilik Kehidupan,Tempat meminta dan berharap.Bila insan bisa membuat terluka dan kecewa karena ia hanya manusia biasa tak luput dari dosa yang tak layak kita berharap padaNYA.
Lebih mudah bagi kita untuk memvonis kok jadi begini kok jadi begitu???kenapa seorang yang dulunya begini jadi begitu??
Mudah sekali kita kecewa,namun pernakah kita bertanya pada diri kita sudah cukup jadi saudara yang baikkah untuk saudara saudari kita????dimanakah kita saat-saat saudara saudari kita mengalami pergulatan batin,pergulatan iman,sebelum menjadi pribadi yang yang lain.????Seberapakah sering kita mendoakannya,supaya dia lurus dalam hidayah ???? ……………..
…………………………………..
Ya Alloh ampunilah segala khilaf dan salahku
Ya Alloh ampunilah juga saudara saudariku
Berikan kami selalu hidayahmu
untuk saudariku,maafkan bila ku belum bisa memberi tali ukhuwah yang sempurna layaknya kaum anshar dan muhajirin,Semoga ALLOH senantiasa memberi petunjuk padamu,pertolongan ,dan ampunan,bila yang terjai padamu suatu ujian semoga engkau bisa melaluinya.AMIN

HAPPY ROMADHON

Sunday, August 10th, 2008

8 Tips Sambut Ramadhan” :

1. Berdoa agar Allah swt. memberikan umur panjang kepada kita sehingga kita berjumpa dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat. Dengan keadaan sehat, kita bisa melaksanakan ibadah secara maksimal: Puasa, shalat, tilawah, dan dzikir. Dari Anas bin Malik r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. apabila masuk bulan Rajab selalu berdoa, ”Allahuma bariklana fii rajab wa sya’ban, wa balighna ramadan. Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadan.” (HR. Ahmad dan Tabrani)

2. Pujilah Allah swt. karena Ramadhan telah diberikan kembali kepada kita. Imam An Nawawi dalam kitab Adzkar-nya berkata: ”Dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan kebaikan dan diangkat dari dirinya keburukan untuk bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur; dan memuji Allah dengan pujian yang sesuai dengan keagungannya.” Dan di antara nikmat terbesar yang diberikan Allah swt. kepada seorang hamba adalah ketika dia diberikan kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan.

3. Bergembira dengan datangannya bulan Ramadhan. Rasulullah saw. selalu memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya setiap kali datang bulan Ramadhan: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka.” (HR. Ahmad).

4. Rencanakan agenda kegiatan harian untuk mendapatkan manfaat sebesar mungkin dari bulan Ramadhan. Ramadhan sangat singkat, karena itu, isi setiap detiknya dengan amalan yang berharga, yang bisa membersihkan diri, dan mendekatkan diri kepada Allah swt.

5. Kuatkan azam, bulatkan tekad untuk mengisi waktu-waktu Ramadhan dengan ketaatan. Barangsiapa jujur kepada Allah swt., maka Allah swt. akan membantunya dalam melaksanakan agenda-agendanya dan memudahnya melaksanakan aktifitas-aktifitas kebaikan. “Tetapi jikalau mereka benar terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” Muhamad:21.

6. Pahami fiqh Ramadhan. Setiap mukmin wajib hukumnya beribadah dengan dilandasi ilmu. Kita wajib mengetahui ilmu dan hukum berpuasa sebelum Ramadhan datang agar amaliyah Ramadhan kita benar dan diterima oleh Allah swt. “Tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahu.” Al-Anbiyaa’ ayat 7.

7. Kondisikan qalbu dan ruhiyah kita dengan bacaan yang mendukung proses tadzkiyatun-nafs –pemberishan jiwa-. Hadiri majelis ilmu yang membahas tentang keutamaan, hukum, dan hikmah puasa. Sehingga secara mental, dan jiwa kita siap untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah swt. di bulan Ramadhan.

8. Tinggalkan dosa dan maksiat. Isi Ramadhan dengan membuka lembaran baru yang bersih. Lembaran baru kepada Allah, dengan taubat yang sebenarnya taubatan nashuha. “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” An-Nur:31. Lembaran baru kepada Muhammad saw., dengan menjalankan sunnah-sunnahnya dan melanjutkan risalah dakwahnya. Kepada orang tua, istri-anak, dan karib kerabat, dengan mempererat hubungan silaturrahim. Kepada masyarakat, dengan menjadi orang yang paling bermanfaat bagi mereka. Sebab, “Manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”

Semoga Allah swt. memanjangkan umur kita sehingga berjumpa dengan Ramadhan. Dan selamat meraih kebaikan-kebaikannya. Amin ya Rabbana. Allahu a’lam

cukuplah kematian itu sebagai nasehat

Sunday, August 10th, 2008

Dihempas gelombang
Dilemparkan angin
Terkisah ku bersedih ku bahagia

Di indah dunia
Yang berakhir sunyi
Langkah kaki di dalam rencana-Nya

Semua berjalan dalam kehendak-Nya
Nafas hidup cinta dan segalanya

Reff:
Dan tertakdir menjalani
segala kehendak-Mu ya Rabbi
Kuberserah kuberpasrah
Hanya pada-Mu ya Rabbi

Dan tertakdir menjalani
segala kehendak-Mu ya Rabbi
Kuberserah kuberpasrah
Hanya pada-Mu ya Rabbi

Bila mungkin ada luka Coba tersenyumlah
Bila mungkin tawa Coba bersabarlah
Karena air mata tak abadi
Akan hilang dan berganti

Bila mungkin hidup hampa dirasa
Mungkinkah hati merindukan Dia
Karena hanya dengan-Nya hati tenang
Damai jiwa dan raga

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. 62:8)

Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.” (QS. 33:16)


 

Kirim

“Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian!” (HR. Tirmidzi)

Berbahagialah hamba-hamba Allah yang senantiasa bercermin dari kematian. Tak ubahnya seperti guru yang baik, kematian memberikan banyak pelajaran, membingkai makna hidup, bahkan mengawasi alur kehidupan agar tak lari menyimpang.

Nilai-nilai pelajaran yang ingin diungkapkan guru kematian begitu banyak, menarik, bahkan menenteramkan. Di antaranya adalah apa yang mungkin sering kita rasakan dan lakukan.

Kematian mengingatkan bahwa waktu sangat berharga

Tak ada sesuatu pun buat seorang mukmin yang mampu mengingatkan betapa berharganya nilai waktu selain kematian. Tak seorang pun tahu berapa lama lagi jatah waktu pentasnya di dunia ini akan berakhir. Sebagaimana tak seorang pun tahu di mana kematian akan menjemputnya.

Ketika seorang manusia melalaikan nilai waktu pada hakekatnya ia sedang menggiring dirinya kepada jurang kebinasaan. Karena tak ada satu detik pun waktu terlewat melainkan ajal kian mendekat. Allah swt mengingatkan itu dalam surah Al-Anbiya ayat 1, “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).”

Ketika jatah waktu terhamburkan sia-sia, dan ajal sudah di depan mata. Tiba-tiba, lisan tergerak untuk mengatakan, “Ya Allah, mundurkan ajalku sedetik saja. Akan kugunakan itu untuk bertaubat dan mengejar ketinggalan.” Tapi sayang, permohonan tinggallah permohonan. Dan, kematian akan tetap datang tanpa ada perundingan.

Allah swt berfirman dalam surah Ibrahim ayat 44, “Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang zalim: ‘Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul….”

Kematian mengingatkan bahwa kita bukan siapa-siapa

Kalau kehidupan dunia bisa diumpamakan dengan pentas sandiwara, maka kematian adalah akhir segala peran. Apa pun dan siapa pun peran yang telah dimainkan, ketika sutradara mengatakan ‘habis’, usai sudah permainan. Semua kembali kepada peran yang sebenarnya.

Lalu, masih kurang patutkah kita dikatakan orang gila ketika bersikeras akan tetap selamanya menjadi tokoh yang kita perankan. Hingga kapan pun. Padahal, sandiwara sudah berakhir.

Sebagus-bagusnya peran yang kita mainkan, tak akan pernah melekat selamanya. Silakan kita bangga ketika dapat peran sebagai orang kaya. Silakan kita menangis ketika berperan sebagai orang miskin yang menderita. Tapi, bangga dan menangis itu bukan untuk selamanya. Semuanya akan berakhir. Dan, peran-peran itu akan dikembalikan kepada sang sutradara untuk dimasukkan kedalam laci-laci peran.

Teramat naif kalau ada manusia yang berbangga dan yakin bahwa dia akan menjadi orang yang kaya dan berkuasa selamanya. Pun begitu, teramat naif kalau ada manusia yang merasa akan terus menderita selamanya. Semua berawal, dan juga akan berakhir. Dan akhir itu semua adalah kematian.

Kematian mengingatkan bahwa kita tak memiliki apa-apa

Fikih Islam menggariskan kita bahwa tak ada satu benda pun yang boleh ikut masuk ke liang lahat kecuali kain kafan. Siapa pun dia. Kaya atau miskin. Penguasa atau rakyat jelata Semuanya akan masuk lubang kubur bersama bungkusan kain kafan. Cuma kain kafan itu.

Itu pun masih bagus. Karena, kita terlahir dengan tidak membawa apa-apa. Cuma tubuh kecil yang telanjang.

Lalu, masih layakkah kita mengatasnamakan kesuksesan diri ketika kita meraih keberhasilan. Masih patutkah kita membangga-banggakan harta dengan sebutan kepemilikan. Kita datang dengan tidak membawa apa-apa dan pergi pun bersama sesuatu yang tak berharga.

Ternyata, semua hanya peran. Dan pemilik sebenarnya hanya Allah. Ketika peran usai, kepemilikan pun kembali kepada Allah. Lalu, dengan keadaan seperti itu, masihkah kita menyangkal bahwa kita bukan apa-apa. Dan, bukan siapa-siapa. Kecuali, hanya hamba Allah. Setelah itu, kehidupan pun berlalu melupakan peran yang pernah kita mainkan.

Kematian mengingatkan bahwa hidup sementara

Kejayaan dan kesuksesan kadang menghanyutkan anak manusia kepada sebuah khayalan bahwa ia akan hidup selamanya. Hingga kapan pun. Seolah ia ingin menyatakan kepada dunia bahwa tak satu pun yang mampu memisahkan antara dirinya dengan kenikmatan saat ini.

Ketika sapaan kematian mulai datang berupa rambut yang beruban, tenaga yang kian berkurang, wajah yang makin keriput, barulah ia tersadar. Bahwa, segalanya akan berpisah. Dan pemisah kenikmatan itu bernama kematian. Hidup tak jauh dari siklus: awal, berkembang, dan kemudian berakhir.

Kematian mengingatkan bahwa hidup begitu berharga

Seorang hamba Allah yang mengingat kematian akan senantiasa tersadar bahwa hidup teramat berharga. Hidup tak ubahnya seperti ladang pinjaman. Seorang petani yang cerdas akan memanfaatkan ladang itu dengan menanam tumbuhan yang berharga. Dengan sungguh-sungguh. Petani itu khawatir, ia tidak mendapat apa-apa ketika ladang harus dikembalikan.

Mungkin, inilah maksud ungkapan Imam Ghazali ketika menafsirkan surah Al-Qashash ayat 77, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) dunia…” dengan menyebut, “Ad-Dun-ya mazra’atul akhirah.” (Dunia adalah ladang buat akhirat)

Orang yang mencintai sesuatu takkan melewatkan sedetik pun waktunya untuk mengingat sesuatu itu. Termasuk, ketika kematian menjadi sesuatu yang paling diingat. Dengan memaknai kematian, berarti kita sedang menghargai arti kehidupan

www.dakwatuna.com

U/seorang yang telah kembali pada pemilikNYA

Ya ALLOH ampunilah segala dosanya

lapangkanlah & terangilah kuburnya

Berilah beliau teman amal terbaiknya

Terimalah beliau dan beri tempat yang baik disisimu

jadikanlah kami hamba-hamba yang ikhlas menerima takdirmu

Dan bisa mengambil pelajaran pada tiap  jalan takdir yang Engkau berikan

Dan kumohon pertemukan dan kumpulkan kami kelak di jannahMU…amin