wahai diriku yang berbusana muslimah ada suatu kisah untukmu
Era 80’an, jilbaber sempat jadi ‘alien’ alias makhluk asing di belantara negeri bernama Indonesia. Apalagi pemerintah orde baru yang memang phobia sama Islam, begitu takutnya sama jilbab dan segala hal yang mengusung semangat pembaruan, apalagi semangat Islam. Jilbab kala itu, adalah produk ideologis dan symbol kelompok yang diberi label fundamentalis oleh pemerintah. Maka tak heran, jilbaber kala itu kudu siap diteror, baik oleh guru, atasan, bahkan oleh keluarga sendiri. Tidak jarang yang didepak dari sekolah, di-DO dari fakultas, dipecat dari pekerjaannya, dicoret dari catatan silsilah keluarga.
Begitu takutnya sama jilbab, sampai-sampai apa pun yang buruk selalu dikaitkan dengan jilbab, seperti kasus jilbab beracun, yang beritanya nyaingin kasus gas beracun, biscuit beracun, sampe bisikan beracun.
Tetapi, ruh jilbab dan pemakainya sungguh besar. Jangankan nonton konser sambil jingkrak-jingkrakan, boro-boro mikirin pacaran, mempertahankan eksistensi jilbabnya, meneguhkan akidah dan keyakinan, itu pun sudah menguras banyak energi.
Tekanan demi tekanan melahirkan perlawanan. Hingga keluarlah SK No. 100/C/KEP/D/1992. Alhamdulillah, jilbaber pun mendapatkan oase dan angin segar.
Kini, jilbab tak lagi eksklusif, yang warna dan modelnya cuma satu, gamis dan jilbab lebar warna gelap.
Jilbab kian hari kian berkibar, ada yang berkibar di ketinggian, ada yang cuma setengah tiang
(maksudnyah?? ), dan ada yang ga bisa berkibar (ya iyalah, wong kainnya dililit ketat di leher ).
Jilbab pun tak hanya menjadi gaya berpakaian anak pesantren, tapi sudah jadi trend di semua kalangan, pelajar, mahasiswa, ibu-ibu rumah tangga, artis, sampai ibu-ibu pejabat.
Jilbab pun naik pangkat bertingkat-tingkat, sampai etalase butik mengkilat (kata si Nida).
Model dan gayanya tentu makin memikat, makin ceria, makin berwarna.
Alhamdulillah, bersyukurlah muslimah yang hidup di Indonesia, sebab bisa mengenakan jilbab kapan pun, di mana pun. Bahkan di panggung perhelatan dunia entertain pun ada jilbab (jilbab atau kerudung yah?). Kalo ga percaya, coba aja lihat bintang KDI2, pake jilbab (baca:kerudung) bukan?
Semoga, keindahan pakaian muslimah masa kini, selaras dengan keindahan pikiran, hati, harga diri, dan tanggung jawab. Dan kita pun bangga pada sosok-sosok muslimah berjilbab yang tetap teguh menyelaraskan jilbabnya sebagai tampilan luar dengan pribadinya. Dan tentu tak melepaskan kekaguman kita pada sosok-sosok perancang busana yang tetap merancang baju sesuai syariat, meski arus jilbab ‘modis’ dan ‘trendi’ begitu deras.
Dan akhirnya kita pun bahagia melihat sosok-sosok jilbaber yang ‘melangit’ dengan segenap prestasi, segudang apresiasi, kecendekiaan, dan tentu, ga gaptek men! tetapi tetap mampu menjaga kesholihahan dirinya dengan pesona jilbab lebar dan kecantikan pribadinya. Menjadi bintang sebenar2 bintang. Mungkin kamu, saudara perempuanmu, istrimu, atau tetanggamu adalah salah satu bintang itu?
So… mari belajar menjadi bintang di hadapan Allah, menyeimbangkan jilbab dengan tuntunan-Nya.
Meneguhkan kembali makna jilbab setelah Ramadhan ini hingga… unlimited deh! (ini mah pesan si Nida). Tapi, sayah juga mau ikuuutt….!
Hayu atuh, berkibarlah bendera negeriku… Eh! Berkibar jilbabku! Teeeeroret! Di setiap waktu! Teeeeroret! Xixixixi… itu mah lagu kasidahan yah!
Ah, pokoknya mah ‘berkibar’lah jilbabku! Pssstt! Hati-hati, anginnya kenceng!
Mudah-mudahan setelah berjilbab akhlaknya pun menjadi berubah total, sebab bagaimana kita tidak prihatin melihat orang berjilbab
1. pacaran, pakai gandengan tangan dan peluk-pelukan
2. lebih dari itu coba saja lihat dimall atau ditempat wisata
3. boncengan motor dengan menyandarkan dadanya kepada cowoknya
4. pakaiannya ketat, jilbab cuma sekedar pake tutup kepala
5. jilbab cuma dipake saat ada pengajian
6. nyonyah pejabat pakai jilbab tetapi menongolkan rambutnya yang disasak itu
7. yang pakai jilbab suka cengengesan, jingkrak
8. pakai jilbab demontrasi, dukung partai dll
yang semuanya itu bukan akhlak Islam..
September 19th, 2007 at 6:50 am
assalamualaikum..
kadang gak bisa ditolerir ya cew2 yg pke jilbab tp attitude g djaga..
ada jg adek tingkatku kalo k kampus peke jilbab tp kalo main pake baju ketat…